Apa Kabar Go Green School
Temen-temen tahu kan Stop Global Warming alias anti pemanasan global? Kalo nggak tahu kelewatan, karena orang di seluruh dunia gencar meneriakkannya.Hot gitu loh! Ujung-ujungnya, kita diajak sadar akan kurangnya area hijau dan pentingnya penghijauan. Nah... Untuk itu, guys, Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI), The Centre for The Betterment of Education (CBE), dan Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) menggulirkan Go Green School (GGS) alias Menuju Sekolah Hijau. Sasarannya sekolah setingkat SMA. Mereka dimotivasi buat menerapakan konsep hijau atau yang peduli lingkungan.Itu sudah mulai tahun 2005. Terus gimana sekarang kabarnya dong? Tapi sebelumnya yuk kita denger dulu nih penjelasan pihak pemrakarsa GGS, KEHATI. "Sekolah hijau adalah sekolah yang memiliki komitmen dan secara sistematis mengembangkan program-program untuk menanamkan nilai-nilai lingkungan ke dalam seluruh aktivitas sekolah," kata Rina Kusuma, Grantmaking Programme Secretariate KEHATI, di kantornya, Jalan Bangka, Pela Mampang, Jakarta, Rabu (14/5). Ia ditemani rekannya, Sheila Agustin.Menurut Rina, awalnya, 22 Februari 2005 konsep GGS dirumuskan lewat seminar nasional. Hadir para ahli pendidikan, lingkungan hidup, dan kepala sekolah beserta guru dari 75 sekolah. "Hasilnya, pada hari itulah diluncurkan GGS Competition," jelasnya.GGS Competition adalah ajang kompetisi bagi sekolah-sekolah untuk menunjukkan komitmen dan kreativitasnya dalam mengadopsi nilai-nilai lingkungan ke dalam aktivitas sekolah. Wah berat ya temen-temen?Setelah itu, tiap sekolah diharuskan membuat proposal tentang program-program konsep hijau yang udah dilakuin sebelumnnya. Empat sekolah yang programnya terbaik masing-masing akan dapet suntikan dana Rp 25 juta/tahun untuk ngembangin program yang udah dibuat, sertifikat, dan seorang pendamping buat ngebantu dan memonitor jalannya proses itu."Sebanyak 200 sekolah yang mengirimkan proposal se-Jabodetabek, kami saring jadi 15, lalu kami saring lagi jadi 4 sekolah. Keempat sekolah tersebut adalah SMK Wikrama (Ciawi, Bogor), SMK Al Muslim (Bekasi Timur), SMAN 13 (Jakarta Utara), dan SMAN 69 (Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu)," kata Rina lagi.Keempat sekolah itulah yang jadi ikon Green School. "Mereka terpilih nggak cuma karena programnya terbaik tapi juga realisasi di lapangan serta kontinuitasnya nyata," sela Sheila yang lulusan akuntansi itu.Rina lalu merinci masing-masing sekolah. SMK Wikrama menerapkan konsep hijau dengan mengusung tema "Sekolah Budaya Sehat". SMK ini membentuk sebuah alat pemograman berbasis komputer untuk mendeteksi tingkat kalori serta kandungan zat pada sebuah makanan yang diintegrasikan di kantin sekolah.SMK Wikrama juga menerapkan pola hemat energi, di mana nggak ada yang namanya AC, kipas angin, ataupun pengadem lainnya di sekolah. Jendela dan ventilasi udara dianggap cukup dengan halaman sekolah yang rindang oleh pepohonan."Sekolah ini pun juga memberikan pelajaran baru atau mulok (muatan lokal--Red) tentang lingkungan ke dalam kurikulumnya. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan berbagai sekolah lain di sekitarnya, bahkan sampai di wilayah Papua dalam mensosialisasikan sekolah berwawasan hijau ini," ucap Rina lagi penuh semangat.SMA Al Muslim dan SMAN 13 lebih concerned pada masalah sekitar sampah dan pertamanan. SMA 13, misalnya, punya program recycle alias daur ulang sampah plastik.Misalnya plastik-plastik bekas kayak botol-botol minuman, kertas-kertas, kardus, atau kantong Rinso disulap jadi barang-barang yang lebih berdaya guna dan bernilai ekonomis, misalnya jas hujan, tas cantik, vas bunga, dan lain-lain. SMK Al Muslim juga menitikberatkan konsep daur ulang. Namun hasilnya bukan barang-barang, melainkan pupuk buat membangun area pertamanan di sekolahnya. "Memang setiap sekolah menerapkan konsep green yang berbeda-beda. Karena perbedaan lokasi, permasalahan lingkungan yang dihadapi tiap sekolah juga berbeda," ucap Sheila, pemakai jilbab yang bertanggung jawab di bagian bagian keuangan KEHATI itu. Ia memberi contoh, SMAN 69 di Kepulauan Seribu membuat transplantasi karang, budidaya ikan kerapu dan bandeng, serta penanaman pohon mangrove di pantai.Setelah 4 tahun berlalu, KEHATI akhirnya memilih sekolah terbaik yang dinilai paling inovatif dalam merealisasikan nilai-nilai lingkungan di sekolah. Pilihannya jatuh pada SMK Wikrama. SMK ini mendapatkan sertifikat dan dana Rp 10 juta dari KEHATI... Wow... mau dong!Last but not least, meski GGS udah rampung, sosialisasi sekolah hijau nggak berhenti di sini. Keempat sekolah tersebut masih mengemban tugas buat menjaga konsistensi sekolah hijau dan menjaring sekolah-sekolah lain untuk ikut serta mengintegrasikan nilai-nilai lingkungan ke dalam aktivitasnya."Sehingga diharapkan, konsep sekolah hijau bisa diikuti sekolah-sekolah lain, setidaknya untuk sekolah kawasan Jabodetabek," tutur Rina. Kita dukung temen-temen... (Safiek)
Harian WARTA KOTA, Sabtu 17 Mei 2008
|
|